Ia Sudah Tahu Batu Itu Akan Jatuh

April 17, 2026 ... menit baca
Ditulis oleh Randi Iskandar
Cover

Pagi itu tidak terasa istimewa. Udara masih dingin, tanah sedikit lembap, dan bukit itu berdiri seperti biasa, diam, tidak berubah. Di bawahnya, batu itu sudah menunggu. Atau mungkin memang tidak pernah ke mana-mana.

Sisyphus berdiri beberapa langkah dari sana. Tidak ada ekspresi yang jelas di wajahnya. Tidak terburu-buru, tidak juga ragu. Seolah-olah ia hanya melanjutkan sesuatu yang kemarin sempat terhenti.

Tangannya menyentuh permukaan batu. Kasar. Dingin. Sama seperti sebelumnya. Ia mulai mendorong, pelan, seperti seseorang yang tidak sedang mengejar apa-apa.

Awalnya berat. Batu itu seperti menahan diri, enggan bergerak. Tapi perlahan, gesekan mulai terjadi. Tanah sedikit memberi jalan. Batu itu akhirnya bergulir, satu dorongan kecil yang diikuti dorongan berikutnya.

Langkah demi langkah, ia naik. Tidak ada yang dihitung. Tidak ada target yang dikejar. Hanya gerakan yang terus berulang, mendorong, menahan, melangkah lagi.

Semakin tinggi, segalanya terasa lebih ringan. Atau mungkin hanya perasaan yang menipu. Bukit mulai menipis. Puncak hampir terlihat. Selalu di titik itu, sesuatu berubah. Bukan pada batu, bukan juga pada bukit, tapi pada keseimbangan yang tiba-tiba menjadi rapuh.

Batu itu berhenti sejenak, seperti mengambil napas. Lalu, tanpa banyak suara, ia kembali jatuh. Menggelinding turun, melewati jalur yang sama, menuju tempat awal.

Ia tidak mengejar. Tidak ada gerakan refleks untuk menahan. Ia hanya berdiri, melihat ke bawah, mengikuti batu itu sampai hilang dari pandangan.

Beberapa saat ia tetap di sana. Tidak jelas apa yang ia tunggu. Mungkin tidak ada. Lalu ia berbalik.

Langkahnya turun perlahan. Bukan karena lelah, tapi karena tidak ada alasan untuk cepat. Angin lewat begitu saja, tanpa membawa apa-apa, tanpa meninggalkan apa-apa.

Saat ia sampai di bawah, batu itu sudah diam lagi. Tenang. Seolah-olah tidak pernah bergerak sebelumnya.

Ia mendekat. Menyentuhnya lagi. Permukaan yang sama. Suhu yang sama. Tidak ada yang berubah.

Tidak ada tanda bahwa sesuatu pernah terjadi.
Ia tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada yang perlu dikatakan.

Tangannya kembali menempel pada batu itu.
Dan seperti sebelumnya, ia mulai mendorong lagi.

Bagikan tulisan ini:
Author

Tentang Penulis

Simpan lupa, supaya yang lewat di kepala tidak sekedar lewat kepala.

Lihat profil lengkap →
Eksplorasi

Baca Cerita Lainnya di Coretan

Komentar

Avatar
Sepertinya dia melakukan sesuatu yang sia-sia nggak sih. Atau ada sesuatu di baliknya?
Avatar
MELODY JACOB
It captures that feeling of constant repetition where the goal matters less than the steady movement of pushing forward. The description of the rock pausing at the summit before the inevitable descent is particularly striking. It highlights the balance between effort and the return to the starting point, making the entire process feel like a meditation on patience. You are invited to explore the most recent thoughts I have added to the blog. www.melodyjacob.com
Tautan berhasil disalin!