Sibuk

Mei 14, 2026 ... menit baca
Ditulis oleh Randi Iskandar
Cover

Ada alasan mengapa sebagian orang merasa gelisah ketika tidak melakukan apa-apa. Bukan karena mereka malas untuk diam, melainkan karena diam sering membawa manusia bertemu dengan pikirannya sendiri.

Di zaman sekarang, kesibukan terlihat seperti simbol keberhasilan. Semakin padat jadwal seseorang, semakin dianggap produktif, penting, bahkan bernilai. Kalender penuh dianggap prestasi. Balas pesan cepat dianggap profesional. Tidur larut menjadi tanda perjuangan.

Namun di balik semua itu, ada pertanyaan yang jarang dibahas:
Apakah manusia benar-benar sibuk karena memiliki banyak tujuan, atau justru karena takut menghadapi dirinya sendiri?

Kadang, saat seseorang berhenti sejenak dari rutinitas, muncul pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tertutup oleh aktivitas:
"Apakah aku benar-benar bahagia?"
"Kenapa hidup terasa kosong meski semuanya terlihat baik?"
"Apa sebenarnya yang sedang aku kejar?"
"Kalau semua kesibukan ini berhenti, siapa diriku sebenarnya?"

Pertanyaan seperti itu tidak nyaman. Mereka tidak bisa dijawab dengan notifikasi, rapat, atau hiburan singkat.

Karena itu banyak orang tanpa sadar memilih terus bergerak. Bekerja tanpa jeda, membuka media sosial tanpa tujuan, menonton sesuatu hanya agar suasana hati tetap ramai. Kesibukan akhirnya menjadi semacam pelarian yang terlihat normal.

Filsuf Blaise Pascal pernah mengatakan bahwa sebagian besar masalah manusia muncul karena manusia tidak mampu duduk diam sendirian di sebuah ruangan. Kalimat itu terasa semakin relevan hari ini.

Manusia modern hidup di tengah kebisingan yang hampir tidak pernah berhenti. Ada musik di telinga, notifikasi di layar, percakapan di grup, dan tuntutan untuk selalu aktif. Sunyi menjadi sesuatu yang asing. Padahal justru dalam keheningan, manusia sering menemukan bagian dirinya yang paling jujur.

Bukan berarti sibuk itu salah. Kesibukan bisa menjadi bentuk perjuangan, tanggung jawab, bahkan mimpi yang sedang diperjuangkan. Tetapi ada perbedaan antara sibuk karena tujuan, dan sibuk karena takut berpikir.

Sebab ketika seseorang tidak pernah memberi ruang untuk diam, ia mungkin sedang menunda percakapan paling penting dalam hidupnya: percakapan dengan dirinya sendiri.

Mungkin itu sebabnya sebagian orang merasa aneh ketika akhirnya memiliki waktu luang. Bukan karena mereka tidak tahu harus melakukan apa, tetapi karena untuk pertama kalinya hidup mulai mengajukan pertanyaan yang selama ini berhasil mereka hindari.

Dan mungkin, sesekali manusia memang perlu berhenti. Bukan untuk menyerah pada hidup, tetapi untuk mendengar apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh batinnya sendiri.

Bagikan tulisan ini:
Author

Tentang Penulis

Simpan lupa, supaya yang lewat di kepala tidak sekedar lewat kepala.

Lihat profil lengkap →
Eksplorasi

Baca Cerita Lainnya di Coretan

Komentar

Avatar
Saya justru banyak diamnya dari pada sibuknya 😁mau ikutan sibuk seprti orang-orang kebanyakan tapi memang enggak ada yg terlalu di sibukkan, jadi menikmati aja porsi masing-masing
Avatar
Kadang saya pura-pura sibuk agar tak terlihat diam.
Avatar
Rezky Pratama
jujur semakin kesini, kerjaan itu tambah enggak ada selesainya, dan menyita waktu di luar yang semestinya
Tautan berhasil disalin!