Tahun lalu, saya berkunjung ke Situs Lebak Cibedug di Kabupaten Lebak, Banten. Awalnya, kunjungan ini saya anggap biasa saja, sekadar melihat situs prasejarah yang selama ini hanya saya kenal lewat bacaan. Tapi begitu sampai dan berjalan pelan di antara susunan batu-batu tua itu, saya merasa tempat ini menyimpan cerita yang jauh lebih dalam.
Situs Cibedug diperkirakan berasal dari masa Neolitikum, sekitar 2500–1500 SM. Ini adalah masa ketika manusia mulai hidup menetap, mengenal bercocok tanam, dan membangun kepercayaan terhadap alam dan leluhur. Fakta itu saja sudah cukup membuat saya terdiam lama di antara susunan batu-batu tua di sana.
Dari situ, pikiran saya mengembara. Bukan untuk menyimpulkan apa pun, tapi sekadar bertanya dalam hati: mungkinkah tempat seperti ini dulu menjadi bagian dari kehidupan manusia yang lebih luas di wilayah ini? Bayangan itu muncul begitu saja, melihat betapa teraturnya punden berundak dan betapa seriusnya ini dibangun.
Berdiri di sana, saya tidak merasa sedang melihat benda mati. Yang terasa justru jejak cara berpikir manusia masa lalu—tentang ruang, tentang ketinggian, dan tentang bagaimana mereka memaknai hubungan dengan sesuatu yang mereka anggap lebih besar dari diri mereka sendiri.
Perasaan itu makin kuat karena situs ini berdiri dikelilingi aliran air yang terus mengalir di bawahnya. Suara airnya pelan, tapi konstan. Seolah menjadi penanda bahwa tempat ini sejak dulu tidak pernah benar-benar terputus dari kehidupan. Ada kesan bahwa lokasi ini dipilih dengan sadar: agak tinggi, terlindung, namun tetap dekat dengan sumber kehidupan.
Di titik itu, saya berhenti berpikir soal umur ribuan tahun atau istilah sejarah apa pun. Yang tersisa hanya rasa kagum, bahwa manusia di masa lalu tidak sekadar membangun, tapi juga memahami alam sekitarnya. Dan pemahaman itu, entah bagaimana caranya, masih bisa kita rasakan sampai sekarang.
Yang membuat Cibedug terasa berbeda adalah kenyataan bahwa warisan itu tidak berhenti di masa lalu. Budaya dan kepercayaan masih hidup. Masyarakat adat setempat tetap menjaga situs ini dengan penuh hormat. Ada batas-batas yang tidak dilanggar sembarangan, ada sikap yang otomatis dijaga ketika berada di area tertentu. Di sini, sejarah terasa dekat, bukan sesuatu yang sudah mati.
Sayangnya, situs sepenting ini masih jarang dibicarakan. Namanya tidak setenar situs-situs besar lain, padahal nilai sejarah dan budayanya sangat kaya. Bisa jadi, kita sering sibuk mencari cerita besar ke tempat yang jauh, sementara jejak penting justru ada di sekitar kita.
Dari kunjungan langsung ke Cibedug itu, muncul pertanyaan di kepala saya: "Mungkinkah masih ada peninggalan Neolitikum lain di sekitar wilayah ini, atau di daerah Banten secara umum?" Pertanyaan ini terasa wajar, mengingat peradaban tidak mungkin berdiri hanya di satu titik.
Justru di sini letak kegelisahan kecil saya. Bisa jadi, kita sebenarnya hidup di atas tanah yang menyimpan banyak cerita masa lalu, tetapi kita sendiri perlahan melupakannya. Padahal, peninggalan seperti Situs Lebak Cibedug seharusnya bukan hanya dianggap sebagai objek wisata atau catatan sejarah, melainkan warisan bangsa, penanda bahwa tanah ini pernah menjadi ruang hidup, ruang percaya, dan ruang berpikir manusia ribuan tahun lalu.
Bagi saya, kunjungan ke Situs Lebak Cibedug bukan sekadar perjalanan melihat masa lalu, tetapi juga ajakan untuk bertanya dan mengingat kembali: apa saja yang pernah tumbuh dan terjadi di tanah ini, sebelum kita mengenalnya seperti sekarang.
Komentar